http://farm2.staticflickr.com/1091/536508083_fd4c3cd822_o.jpg

Menunggu atau Ditinggal: Mending Bokong Tepos Daripada Ngempos

Cerita kali ini masih seputar kunjungan keluarga saya ke Solo. Mereka datang berempat: Papa, mbak Aan (kakak pertama), mbak Iin (kakak kedua), dan mas Gimo (mas Gimo, suami mbak Aan).

Sebelumnya ada cerita soal beli tivi baru 1, kali ini soal kereta. Rencananya, Papa dengan mbak Iin pulang ke Purwokerto hari Sabtu sore, jam 15.30 naik kereta Bengawan.

Hari Sabtu pagi, mbak Iin beres halaman rumah: mbersihin rumput ‘n menata pot. Akhirnya saya bantuin, mas Gimo juga ikutan. Setelah beres semua, kami pun bersiap meluncur ke Solo. Maklum rumah saya udah keluar dari kota Solo.😀 Meluncurlah kami ke tujuan yang udah direncana semula. Papa ditinggal sendiri. Tanpa tivi dan koran.😦 Pagi pas keluar nganter istri kok ya saya lupa beli koran.😕

Sesuai perkiraan, kami pulang sampe rumah kurang lebih jam setengah 2 kurang. Cuaca hujan. Mbak Iin langsung prepare barang bawaan. Sekitar jam 2-an, saya coba telpon taksi. Gelora taxi, katanya armada habis. Coba yang lain: Kosti, Sakura, Wahyu, Bengawan. Nihil. Sibuk semua. Ada yang jaringan sibuk, ada yang nomornya sedang dipakai. Kenalan yang biasa antar jemput pun sedang di luar kota semua.

Jam setengah 3 lebih. Panik melanda. Gimana enggak, perjalanan dari rumah ke stasiun Jebres bisa setengah jam lebih.😐

Akhirnya diputuskan saya dan mas Gimo keluar cari taksi. Untuk keluar pun butuh waktu. Waktu mulai mepet. Jam 3 kurang baru saya dapet Kosti di sebrang pasar Kartosuro. Taksi pun mesti dipandu untuk sampai ke rumah. Risiko rumah terpencil.🙄

Kurang lebih jam 3, taksi beranjak keluar dari perumahan. Saya dan mas Gimo mengikuti dengan motor. Waktu dah mepet banget.😯

Singkat cerita, taksi hampir sampai di Jebres. Ketika taksi berbelok memasuki jalan ke arah stasiun, saat itu pula pintu perlintasan ditutup. Sesampainya mereka di stasiun, mereka pun dapat kabar: kereta yang seharusnya mereka naiki baru saja berangkat. Kata tukang parkir stasiun sih, ‘telat lima detik’.😡

Akhirnya diputuskan cari tiket lagi untuk keberangkatan malam. Untung masih dapat Argo Dwipangga, jam 8 malam. Alhamdulillah. Soalnya Papa ada acara kondangan hari Minggu sekalian ketemuan dgn teman2 kerja dulu.😀

Papa pun nyeletuk, “mending bokong tepos daripada ngempos“. Bener juga, mending dateng lebih awal, nunggu lama sampai pantat rata (=bokong tepos), daripada kecewa karena ketinggalan (ngempos). Papa juga bilang, dah berkali2 naik kereta, baru kali ini ketinggalan kereta.😆

Salut dah buat PT KAI yang udah ningkatin kualitas pelayanan. Terbukti, waktu keluarga saya datang, Bengawan sampai di Jebres sesuai jadwal. Dan kali ini juga, nyatanya sampai penumpangnya ditinggal.😆

Nb: sekedar harapan, moga2 jalur kereta makin banyak, makin nyaman, dan makin aman.💡

24 thoughts on “Menunggu atau Ditinggal: Mending Bokong Tepos Daripada Ngempos

Ada komen/kritik/saran?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s